kontribusi kita terhadap pembangunan jemaat dan pembangunan masyarakat melalui peran pemerintah? Berapa banyak orang Simalungun sebagai aktor pembangunan dalam wilayah kita dan sejauh mana jangkauan konsep pembangunan terhadap kemandirian dan jati diri masyarakat otonomi di daerah. Ada sebuah doktrin yg diwariskan Pdt J Wismar Saragih, yaitu “siparutang do au bani Simalungun”. Doktrin ini dapat disamakan dengan doktrin Jhon Kennedi yg mangatakan; “jangan tanya apa yg diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan pada dirimu apa yg telah kau berikan, pada negaramu”.

Alam konteks ke Simalungun-an adalah apa yg dibuat untuk sesama, apakah saling menjatuhkan, saling mencari keuntungan pribadi dalam persakutuan, atau kita memadu potensi untuk maju mencapai kesetaraan.

Pandangan para pendahulu kita yg mampu memprediksi melewati proses multi dimensi jaman, dan mampu mengimajinasi dan antisipasi kemungkinan yg diperlukan oleh generasi kemudian, maka sangat kontekstual kalau tema kerja tahun 2006 berfokus pada pembinaan dan kaderisasi pemuda yg mampu hidup dalam pemaknaan ketaatan kepada pemerintah yg berarti dia sendiri ada di dalamnya sehingga tidak hanya taat tapi juga ditaati.
Saya sangat terkesan dengan dialog kami dengan seorang teman marga Hutagalung yg bekerja di Kanwil Keuangan Sumatera Utara dengan membanitahukan kepada saya bahwa telah banyak mereka dari kelompok elit mengupayakan tempat pada beberapa jabatan di departemen tertentu dari para pemuda yg dikaderkan berasal dari pemuda gereja dan belajar pada perguruan dilingkungan gereja itu juga.Penempatan itu bukan karena lobiling tapi kemenangan kompetisi karena bimbingan dan semangat.

Ada dua kutub yg mendukung konsep tersebut,yaitu ada kesepakatan para elit melihat siapa di masa depan,dan sisi lain adalah potensi ketaatan yg ada pada pemuda itu sendiri.Mereka di samping berdoa juga diiringi kerja keras. Dan katanya bahwa banyak di antara mereka itu menjadi donatur pembangunan jemaatnya bahkan membuat kesinambungan bahwa mereka merasa berhutang terhadap sponsornya.

Merenungi konser strategi mereka itu, saya jadi teringat falsafah yg di tulis Kahlil Gibran sebagai berikut

Agar lebih dekat kepada Tuhan, lebih dekatlah kepada manusia.

Nilai manusia itu berada dalam beberapa hal yg diciptakannya dan bukan dalam berbagai harta yg ditimbunnya.

Kesalahan terburuk kita adalah kesibukan kita dengan kesalahan orang lain.

Kita suka mengembangkan kesalahan dan tidak begitu suka mengembangkan fakta kebenaran dan keunggulan. Adanya suatu ajaran yg dianut orang Simalungun yaitu “habonaron do bona” tapi kurang ada proses aplikasinya. Justru ajaran ini jadi mengkristal dalam bentuk masyarakat yg berbudaya sosial religius sehingga sifatnya kurang agresip yg manipestasinya pada rasa malu-malu dengan pertimbangan harga diri dan kemudian sifat tersebut diadopsi generasi muda.

Banyak wadah interaksi mendorong perubahan tradisi itu seperti berdiri nya Partuha Maujana Simalungun sejak 46 tahun lalu yg bergerak sampai pada kongresnya yg ke 6 bulan September 2005 yg lalu, tapi sayang belum dikenal lapisan masyarakat bawah. Ada HIMAPSI sebagai wadah generasi muda intelektual, ada HISARSI sebagai kompotensi penyusun perubahan secara analitis, ada KNPSI sebagai penggerak kelompok pemuda dan ada UPAS yg berfungsi kontrol terhadap pemberdayaan asset-asset Simalungun termasuk Pemerintah Daerah Otonom,ada Ikatan Keluarga Muslim Simalungun. Nampaknya semua institusi ini menjadi tumpang tindih dalam menerapkan fungsi dan missinya.Semua kelembagaan ini hanya dijadikan peluang menempati status tanpa aksi.

Belajar dari pengalaman terasa diperlukan upaya legitimasi kelembagaa adat oleh lembaga adat ditiap kampung dan desa sampai pada adanya lembaga adat tertinggi yaitu Majelis Permusyawaratan Adat sebagai pusat pemberdayaan adat dan budaya bagi seluruh masyarakat adat Simalungun dari beberapa daerah Kabupaten. Perlu ada lembaga proteksi adat yg mandiri untuk tidak mudah terkoptasi oleh kelompok sosial yg lain. Untuk itu perlu ada forum Kongres Besar Adat dan seminar sejarah adat Simalungun. Kemungkinan saja untuk masa depan kelembagaan adat ini menjadi sangat potensial dan strategi dalam mempertahankan hak dan asal-usul masyarakat adat Simalungun. Untuk itu sendat kompeten dan fungsional GKPS dalam menyelamatkan peran pemuda dan dorongan peran intelektual karena sayapnya telah menyebar keberbagai penjuru.

Tanpa mengurangi potensi dan rasa nasionalisme dikalangan generasi muda Simalungun, maka adalah sangat baik kalau d itiap daerah dan wilayah ada Ikatan Keluarga Simalungun untuk menghimpun seluruh warga Simalungun yg ada di sekitarnya mengingat agamanya yang berbeda-beda. Memang dari dulu diakui adanya paradigma kemasyarakatan yang baru dalam tubuh PMS yang pengurusnya terdiri dari berbagai golongan agama, tapi karena sifatnya berasal dari partuha dan maujana maka terkonotasi bahwa PMS adalah kelompok elit yg sedikit berwajah feodalistik dan tidak persuasip dan karena itu sulit merekrut kelompok pemudanya. Kegagalan merangkul Pemuda adalah awal kegagalan masa depan. Maka kata kuncinya adalah bagaimana menyertakan pemuda secara aktip dalam perkembangan masa depan Simalungun dan GKPS.

Kita berharap kerada para elit yg ada di tubuh GKPS dengan berpegang pada kekuatan iman, kasih dan pengharapan. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca.

Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s